Jumat, 12 Agustus 2011

Sukses Versi Aku

“Sukses itu kebebasan waktu dan finansial,” Arif Fadlillah, 21 tahun, mahasiswa.

“Kalau aku merasa senang, aku anggap aku sukses,” Novizar Iskandar, 21 tahun, mahasiswa.


Ada ribuan lagi arti sukses bagi orang-orang di luar sana. Setiap orang mengartikan sukses itu berbeda-beda. Merry Riana, seorang milyader Indonesia yang sukses di Singapura, membuat aku belajar arti sukses sesungguhnya. Merry Riana sukses dengan motivasi yang tinggi untuk mengubah hidupnya dan orang tuanya menjadi lebih baik. Maka dengan kesuksesannya saat ini, Ia ingin menginspirasi orang-orang untuk sukses. Terutama orang-orang di Asia.


Dan Aku? Siapakah aku? Saat ini aku memang seorang mahasiswi di sebuah universitas yang namanya saja jarang dikenal di negaranya, dan lebih parahnya lagi nasibnya masih bergantung pada orangtuanya. Hari ini, itulah aku. Juliana Fisaini.


Sebuah pertanyaan, kenapa aku harus sukses? Aku ingin dengan kesuksesanku aku dapat membuat bangga dan bahagia orang-orang yang ku sayangi dan menyanyangiku, membantu orang-orang di sekitarku, dan membuat orang lain juga ikut sukses bersamaku. Lalu timbul beberapa pertanyaan,


Bagaimana cara membuat orang-orang yang kusayangi dan menyanyangiku bahagia? Aku harus punya waktu bersama mereka (KEBEBASAN WAKTU).


Bagaimana membantu orang-orang di sekitarku? Aku harus mempunyai materi dan kesehatan (KEBEBASAN FINANSIAL).


Bagaimana mensukseskan orang lain? Mengubah pola pikir dan memberi motivasi untuk sukses kepada mereka (INSPIRATOR).


Nah, sekarang bagaimana cara aku mewujudkan keinginanku itu? Niat, tekat, motivasi, belajar, bekerja, berusaha, sekuat hati dan tenaga. Dan memelihara yang sudah tercipta.



Jumat, 15 Juli 2011

Minggu, 07 Agustus 2011

Prof.Dr.Ir.Roosseno, Bapak Beton Indonesia


Prof.Dr.Ir Roosseno yang lahir pada tanggal 2 Agustus 1908 adalah pelopor konstruksi beton di Indonesia. Nama Roosseno selalu dikaitkan dengan rekayasa teknik sipil Indonesia. Dialah penerjemah ulung gambar dan desain para perancang bangunan ke dalam bentuk dan struktur pada masanya.

Roosseno merupakan lulusan dari Technische Hooge School Bandung (sekarang Institut Teknik Bandung/ITB) yang pada tahun 1932 menjadi satu – satunya orang Indonesia di antara 12 orang yang lulus dari insitut tersebut. Ia lulus dengan nilai tertinggi di antara 7 orang Belanda dan 1 orang Tionghoa. Ia mengawali karir dengan berwiraswasta di Bandung dengan mendirikan Biro Insinyur Roosseno dan Soekarno (Presiden pertama RI) di Jalan Banceuy pada tahun 1933. Meski sebetulnya sama – sama insinyur sipil, Soekarno lebih pandai dalam merancang bangunan.

Adapun Roosseno, yang dikenal jago berhitung semasa mahasiswa, pandai dalam membangun konstruksinya.
Setelah biro yang mereka dirikan bubar pada tahun 1935 – 1939, Roosseno bekerja sebagai pegawai Department van Verkeer en Waterstaat (Departemen Jalan dan Pengairan) di Bandung). Di sini, ia berhasil meyakinkan atasan – atasannya untuk mengutamakan penggunaan beton dalam pembangunan jembatan di Indonesia. Alasannya, bahan-bahan dasar beton seperti pasir, batu pecah, semen dan kayu perancah dapat dibeli di Indonesia sendiri, sehingga biaya pengadaannya akan masuk ke dalam kantong rakyat dan ikut mensejahterakan rakyat.

Pada masa penjajahan Jepang, Roosseno beralih menjadi dosen di Bandung Koogyo Daigaku (perubahan dari THS) hingga awal kemerdekaan. Semasa masih hidup, ia dikenal bisa menjelaskan ilmu – ilmu yang sulit dengan cara penyampaian sederhana. Dengan itu, murid – murid diharapkan lebih terinspirasi lagi, dan semakin cinta mendalami teknik sipil. Pada masa pendudukan Jepang, tepatnya 1 April 1944, Roosseno diangkat menjadi guru besar (kyudju) bidang ilmu beton di Bandung Kogyo Daigaku. Lalu, tanggal 26 Maret 1949 ia diangkat menjadi guru besar luar biasa ilmu beton di Universiteit Van Indonesi, Faculteit van Technische Wetenschap di Bandung.

Pada tahun 1948, Rooseno pindah ke Jakarta dan mendirikan Kantor Consulting Engineer.
Pada tahun 1954, Roosseno menulis buku ajar beton pertama dalam bahasa Indonesia. Kemudian pada tahun 1949, ia mulai memperkenalkan beton pratekan melalui kuliah – kuliahnya di ITB dan melalui tulisan – tulisan dalam Majalah Insinyur Indonesia pada tahun 1959. Selain itu ia pernah tiga kali menjabat menteri diantaranya Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga, Menteri Perhubungan, dan Menteri Ekonomi. Selama masa itu ia tetap aktif di pendidikan dan menjadi guru besar ITB dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) dan juga sebagai Direktur Sekolah Tinggi Teknik Nasional (STTN) di Jakarta. Nama Roosseno mulai diperbincangkan pada sekitar 1960, ketika Presiden Soekarno mulai menyukai bangunan – bangunan besar. Lalu dibangunlah Hotel Indonesia di Jakarta, Hotel Ambarukmo di Yogyakarta, Samudera Beach Hotel di Pelabuhan Ratu, dan Bali Beach Hotel di Pantai Sanur, Bali. Juga Tugu Selamat Datang dan Monumen Nasional. Untuk menyongsong Asian Games, dibangun kompleks Gelanggang Olahraga Senayan, yang juga dinamakan Gelora Bung Karno.

Roosseno adalah salah seorang insinyur yang secara konsisten mengenalkan dan mengembangkan beton – baik lentur maupun tarik – dalam rekayasa bangunan di Indonesia. Oleh karena itu, ia dijuluki sebagai Bapak Beton Indonesia. Roosseno pula lah yang mengusulkan kepada Presiden Sukarno untuk membentuk Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Kemudian pada 17 Juli 1964 ia ditunjuk menjadi Dekan dari fakultas tersebut.
Sebagai ahli beton bertulang, Rooseno telah banyak menangani berbagai proyek penting, seperti jembatan, pelabuhan, gedung, dan hotel bertingkat. Di kalangan perbetonan internasional, Roosseno menjadi anggota International Association for Bridge and Structural Engineering (IBSE), Zurich dan Federation International de Precontreinte (FIP).

Di masa pemerintahan Presiden Soeharto, Roosseno tetap dipercaya untuk menangani proyek – proyek besar misalnya pemugaran Candi Borobudur dan penyelesaian Masjid Istiqlal. Ketika Jakarta dilanda demam gedung tinggi, Roosseno ditunjuk menjadi bagian dalam Tim Penasihat Konstruksi Bangunan yang dibentuk Gubernur Ali Sadikin pada 1972. Selain itu Rooseno juga menjadi Direktur di tiga perusahaan yaitu, Biro Insinyur Exakta NV, Freyssinet Indonesia Ltd dan Biro Oktroi Patent Roosseno. Pada tahun 1962, Pemerintah RI menganugerahinya Satya Lencana untuk jasa ikut membangun Kompleks Asian Games Senayan. Penghargaan lainnya adalah Doctor Honoris Causa untuk ilmu teknik yang diterimanya dari ITB pada tahun 1977. Pada Juli 1984, Roosseno mendapat Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah yang diberikan langsung oleh Presiden Soeharto. Predikat Bapak Beton Indonesia tepat sekali diberikan kepada Roosseno, yang meninggal pada15 Juni 1996 ini. Ia telah terlibat dalam banyak proyek – proyek penting di Indonesia. Walaupun ia sudah tiada, namun jasa dan karya – karyanya akan selalu senantiasa dikenang.

Sumber : http://www.engineeringtown.com


Jika Indonesia punya Prof.Dr.Ir.Roosseno sebagai Bapak Beton, bagaimana dengan Jurusan Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala?

Ukuran Lapangan Terbang

Di Indonesia, perkembangan ilmu tentang pesawat atau dirgantara dinilai sangat minim. Tidak banyak buku yang ditulis oleh orang Indonesia tentang pesawat dan lapangan terbang. Semangat membuat pesawat hanya tinggal kenangan pada zaman BJ Habibie. Maka proyek pembangunan lapangan terbang pun kian jarang ditemukan.

Menurut Annex 14 dari International Civil Aviation Organization (ICAO) : Bandar udara adalah area tertentu di daratan atau perairan (termasuk bangunan, instalasi dan peralatan) yang diperuntukkan baik secara keseluruhan atau sebagian untuk kedatangan, keberangkatan dan pergerakan pesawat. Untuk lepas landas atau pendaratan pesawat diperlukan landasan pacu atau lapangan terbang.

Menurut Ir. Heru Basuki ada beberapa faktor yang mempengaruhi ukuran lapangan terbang.

Karakteristik dan ukuran pesawat rencana.
Informasi tentang karakteristik (kemampuan) pesawat sebenarnya sudah di keluarkan oleh pabrik pesawat, tetapi karena “bahasa penerbangan” agak sulit dipahami oleh perencana yang notabene lulusan teknik sipil. Oleh karena itu, untuk menghubungkan keduanya dipakai pedoman dari Federal Aviation Administration United State Runway Length Requirement For Airport Design No. 150/5325-4 dan ICAO–Aerodrome Manual Part I, General; Document 7920-AN/865/2. Keduanya memuat data tentang karakteristik pesawat dan ukurannya.

Perkiraan volume penumpang.
Volume penumpang menentukan jumlah dan panjang landasan, serta konfigurasi taxiway yang yang diperlukan.

Kondisi meteorologi (angin dan temperatur)
Temperatur mempengaruhi panjang dan pendeknya suatu landasan. Temperatur yang tinggi memerlukan landasan yang panjang, begitu juga sebaliknya. Arah angin mempengaruhi jumlah dan kofigurasi landasan.

Ketinggian dari muka laut.
Data ketinggian dari muka laut mempengaruhi ketinggian penerbangan pesawat pada saat mendarat dan meninggalkan landas pacu.



Referensi :

http://bandaraonline.com
Merancang dan Merencanakan Lapangan Terbang Oleh Ir. Heru Basuki
Habibie & Ainun Oleh Bacharuddin Jusuf Habibie

Cara Memilih Lokasi Pelabuhan

Pernahkah Anda mendengar Sabang? Sabang merupakan nama sebuah kota di Pulau Weh. Kota ini terletak di bagian paling barat Indonesia. Di pulau ini terdapat sebuah tugu titik 0 (nol) kilometer Indonesia. Pulau Weh berbatasan langsung dengan samudera Hindia, sehingga pulau ini terkenal dengan keindahan laut dan pantainya. Namun, hanya ada satu jenis transportasi yang sering digunakan orang untuk menuju pulau ini, yaitu transportasi laut. Untuk keperluan transportasi laut, dibutuhkan sebuah pelabuhan. Agar bangunan pelabuhan dapat dijangkau oleh banyak orang, maka diperlukan beberapa hal yang mempengaruhi lokasi atau letak suatu pelabuhan.

Letak suatu pelabuhan akan mempengahui operasional pelabuhan tersebut. Misalnya pelabuhan penumpang diusahakan terletak di lokasi yang padat penduduknya dan ada akses jalan raya menuju ke pelabuhan. Pelabuhan curah diletakkan di lokasi pabrik. Begitu juga dengan pelabuhan barang dan peti kemas. Intinya fungsi utama pelabuhan juga menentukan letak pelabuhan.


Menurut Bambang Triatmodjo (1986), tidak hanya fungsi yang menentukan lokasi, tetapi ada beberapa tinjauan alam yang harus juga diperhatikan. Adapun tinjauan yang dimaksud adalah tinjauan topografi dan geologi, pelayaran, sedimentasi, arus dan gelombang, serta kedalaman air. Hal ini akan mempengaruhi bangunan pelabuhan.


Tinjauan topografi dan geologi.

Untuk membangun sebuah pelabuhan diperlukan daratan yang luas untuk keperluan fasilitas pelabuhan seperti gudang dan dermaga. Bisa juga daratan yang sempit, tetapi harus didukung oleh perairan yang dangkal agar dapat ditimbun. Geologi atau data tanah diperlukan untuk mengetahui kemudahan dalam pengerukan kolam pelabuhan.

Tinjauan pelayaran, arus dan gelombang.

Kapal-kapal yang berlayar juga dipengaruhi oleh angin, gelombang, dan arus. Untuk itu letak pelabuhan harus memudahkan kapal-kapal berlayar dengan didukung angin, gelombang dan arus air laut.

Tinjauan sedimentasi.

Sedimentasi atau pengendapan lumpur di sekitar pelabuhan harus diusahakan seminimal mungkin, bahkan tidak terjadi sedimentasi. Karena biaya pengerukan bawah laut menghabiskan biaya yang besar. Jika terjadi sedimentasi, pelabuhan tidaklah ekonomis.

Tinjauan kedalaman air.

Kedalaman air di sekitar pelabuhan juga mempengaruhi pelabuhan. Kolam pelabuhan dirancang dengan kedalaman tertentu berdasarkan kebutuhan kapal-kapal yang dilayani. Maka kedalaman air disekitar pelabuhan harus terjaga.



Referensi :


http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Weh

http://id.wikipedia.org/wiki/Geografi_Indonesia
http://iamnotthoseman.wordpress.com



Data-Data Untuk Perencanaan Pelabuhan

Perencanaan pelabuhan merupakan pekerjaan yang lumayan jarang ditemui oleh pekerja teknik sipil. Karena pembangunan pelabuhan tidak sebanyak pembangunan perumahana, gedung bertingkat dan jalan. Banyak pihak yang terlibat dalam mendirikan bangunan ini, dan banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk membangun sebuah pelabuhan. Pertimbangan tersebut meliputi pertimbangan ekonomi, politik, dan teknis. Selain itu, pembangunan pelabuhan juga membutuhkan biaya yang besar. Sehingga pertimbangan ekonomi menjadi tinjauan awal dalam merencanakan pelabuhan. Study kelayakan terhadap pembangunan suatu pelabuhan sangat perlu dilakukan agar biaya investasi dan operasional dapat tertutupi dalam jangka waktu tertentu. Jika suatu pelabuhan layak untuk dibangun, maka hal kedua adalah mengumpulkan sejumlah informasi untuk memperoleh data - data yang terkait dengan pembangunan pelabuhan.

Adapun data awal yang dibutuhkan adalah data topografi dan data bathymetri. Data topografi berguna untuk mengetahui situasi dan ketinggian tanah untuk keperluan dermaga, sedangkan data bathymetri digunakan untuk mengetahui variasi kedalaman dan rintangan alur pelayaran di sekitar dermaga. Data ini dapat diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan.


Pelabuhan juga merupakan bangunan yang dibangun oleh lulusan teknik sipil khususnya bagian hidroteknik dan bangunan pelabuhan berhubungan dengan air, laut. Untuk itu data-data hidrografi dan oceanografi tentu saja menjadi bagian penting. Data hidrografi dan oceanografi meliputi data pasang surut, data gelombang, data arus, dan data angin. Data ini dapat diperoleh dari instansi pemerintahan seperti Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) atau badan pencatatan angin yang biasanya terletak sekitar bandar udara daerah tertentu.

Data angin diperlukan untuk merencanakan mulut alur pelayaran, atau tata letak pemecah gelombang. Tujuannya agar kolam pelabuhan dapat terhindar dari sedimentasi. Data gelombang diperlukan untuk mengetahui tinggi gelombang dan titik pecahnya gelombang untuk perencanaan pemecah gelombang. Dan data pasang surut diperlukan untuk menentukan elevasi bangunan-bangunan di pelabuhan agar tidak terendam air pada saat pasang.


Selain data-data diatas, dalam merencankan suatu pelabuhan juga harus dilakukan penyelidikan tanah untuk merencanakan dermaga yang aman dan ekonomis.


Referensi :

Pelabuhan Cetakan ke 7 (2007) oleh Prof. Dr. Ir. Bambang Triatmodjo, CES. DEA
www.bmg.go.id
http://digilib.its.ac.id